Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 November 2010

Pacaran Islami

Sebagian orang muslim menyangka bahwa kita bisa siap nikah tanpa pacaran lebih dulu. Benarkah demikian? Persangkaan mereka itu keliru! Sebab, makna asli “pacaran” adalah “persiapan menikah”. Mengingat bahwa nikah merupakan langkah besar dalam kehidupan, kita pada umumnya takkan mungkin siap nikah tanpa mempersiapkannya.
Ada juga yang mengharamkan pacaran sebelum menikah karena menyangka bahwa “bentuk pacaran pasti tidak lepas dari perkara-perkara haram, khususnya zina”.

Setelah menikah, kita tidak lagi menjadi calon pengantin. Jadi, mustahil pacaran setelah menikah.

Karena itu, kalau mau membicarakan indahnya pacaran, tentunya SEBELUM menikah. Hanya saja, yang indah ini adalah pacaran yang sehat atau yang islami.

Pacaran Islami, Adakah?

Pacaran, setiap kali kita mendengarnya akan terlintas dibenak kita sepasang anak manusia yang tengah dimabuk cinta dan dilanda asmara, saling mengungkapkan rasa sayang serta rindu. Lalu kenapa harus dipermasalahkan? Bukankah "ada pacaran islami" tanpa harus melanggar batasan-batasan syariat?

CINTA, FITRAH ANAK MANUSIA
Manusia diciptakan oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala dengan membawa fitrah (insting) untuk mencintai lawan jenisnya. sebagaimana firman-Nya, artinya,
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Âli-'Imrân: 14).

Berkata Imam Qurthubi, "Allah memulai dengan wanita karena kebanyakan manusia menginginkannya, juga karena mereka merupakan jerat-jerat setan yang menjadi fitnah bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Tiadalah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita." (HR. Bukhârî dan Muslim).

Oleh karena itu, wanita adalah fitnah terbesar dibanding yang lainnya. (Lihat Tafsîr al Qurthubî 2/20). Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun, sebagai manusia, tak luput dari rasa cinta terhadap wanita. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Disenangkan kepadaku dari urusan dunia wewangian dan wanita." (HR. Ahmad dan selainnya dengan sanad hasan).

Karena cinta merupakan fitrah manusia, maka Allah menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan nikmat yang dijanjikan bagi orang-orang beriman di surga dengan bidadarinya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang shalihah." (HR. Muslim).
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman, artinya, "Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik." (QS. Ar-Rahmân: 70).

Namun, Islam sebagai agama paripurna para rasul, tidak membiarkan fitnah itu mengembara tanpa batas, Islam telah mengatur dengan tegas bagaimana menyalurkan cinta, juga bagaimana batas pergaulan antara dua insan lawan jenis sebelum nikah, agar semuanya tetap berada dalam koridor etika dan norma yang sesuai dengan syari'at.

ETIKA PERGAULAN LAWAN JENIS DALAM ISLAM

1. Menundukan Pandangan terhadap Lawan Jenis
Allah memerintahkan kaum laki-laki untuk menundukan pandangannya, sebagaimana firman-Nya, artinya, "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nûr: 30).
Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada wanita beriman, Allah berfirman, artinya, "Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluan-nya." (QS. An-Nûr: 31).

2. Menutup Aurat
Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya." (QS. An-Nûr: 31).
Juga firman-Nya, artinya, "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzâb: 59).

3. Adanya Pembatas Antara Laki-laki dengan Wanita
Seseorang yang memiliki keperluan terhadap lawan jenisnya, harus menyampaikannya dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firman-Nya, artinya, "Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita) maka mintalah dari balik hijab." (QS. Al-Ahzâb: 53).

4. Tidak Berdua-duaan dengan Lawan Jenis
Dari Ibnu 'Abbâs Radhiyallahu ‘Anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya." (HR. Bukhârî 9/330, Muslim 1341).
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga bersabda, "Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan seorang wanita, karena setan akan menjadi yang ketiganya." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzî dengan sanad shahih).

5. Tidak Mendayukan Ucapan
Seorang wanita dilarang mendayukan ucapan saat berbicara kepada selain suami. Firman Allah Subhaanahu wa Ta'ala, artinya, "Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik." (QS. Al-Ahzâb: 32).
Berkata Imam Ibnu Katsîr—rahimahullâh, "Ini adalah beberapa etika yang diperintahkan oleh Allah kepada para istri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam serta para wanita Mukminah lainnya, yaitu hendaklah dia kalau berbicara dengan orang lain tanpa suara merdu, dalam artian janganlah seorang wanita berbicara dengan orang lain sebagaimana dia berbicara dengan suaminya." (Tafsîr Ibnu Katsîr: 3/530).

6. Tidak Menyentuh Lawan Jenis
Dari Ma'qil bin Yasâr t berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (HR. Thabrânî dalam Mu'jam al Kabîr: 20/174/386).
Berkata Syaikh Al-Albânî—rahimahullâh, "Dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (Ash-Shohîhah: 1/448).

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam saat-saat penting seperti membaiat dan lain-lain. Dari 'Aisyah berkata, "Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat." (HR. Bukhârî 4891).

Inilah sebagian etika pergaulan laki-laki dengan wanita selain mahram, yang mana, apabila seseorang melanggar semuanya atau sebagiannya saja akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. zina mata dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan-angan, lalu farji yang akan membenarkan atau mendustakan semuanya." (HR. Bukhârî dan Muslim).

Padahal Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah melarang perbuatan zina dan segala sesuatu yang bisa mendekati perzinaan. (Lihat Hirâsatul Fadhîlah oleh Syaikh Bakr Abu Zaid, hal. 94-98). Sebagaimana firman-Nya, artinya, "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isrâ': 32).

Hukum Pacaran
Setelah memerhatikan ayat dan hadits di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa pacaran itu haram, karena beberapa sebab berikut:
Orang yang sedang pacaran tidak mungkin menundukan pandangannya terhadap kekasihnya. Awal munculnya rasa cinta itu pun adalah dari seringnya mata memandang kepadanya.
Orang yang sedang pacaran tidak akan bisa menjaga hijab.
orang yang sedang pacaran biasanya sering berdua-duaan dengan kekasihnya, baik di dalam rumah atau di luar rumah
Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya
Pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dengan wanita, meskipun itu hanya jabat tangan.
Orang yang sedang pacaran, bisa dipastikan selalu membayangkan orang yang dicintainya.

Perhatikan kembali etika pergaulan dengan lawan jenis dalam Islam yang telah kami sebutkan di atas. Berapa poin pelanggaran yang dilakukan oleh orang pacaran? Dalam kamus pacaran, hal-hal tersebut adalah lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkan pacaran, lalu bagaimana kalau semuanya?

SYUBHAT DAN JAWABANNYA
Sebenarnya, keharaman pacaran lebih jelas daripada matahari di siang bolong. Namun begitu, masih ada yang berusaha menolaknya walaupun dengan dalil yang sangat rapuh, serapuh rumah laba-laba Di antara syubhat itu adalah:
Syubhat pertama:
Tidak bisa dipukul rata bahwa pacaran itu haram, karena bisa saja orang pacaran yang Islami, tanpa melanggar syariat.

Tanggapan:
Istilah "Pacaran Islami" itu cuma ada dalam khayalan, dan tidak pernah ada wujudnya. Anggaplah dia bisa menghindari khalwat (berduaan), menyentuh serta menutup aurat, tapi tetap tidak akan bisa menghindari dari saling memandang. Atau paling tidak membayangkan dan memikirkan kekasihnya. Yang mana hal itu sudah cukup mengharamkan pacaran.

Syubhat kedua:
Orang sebelum memasuki dunia pernikahan, butuh untuk mengenal dahulu calon pasangan hidupnya, baik sisi fisik maupun karakter, yang mana hal itu tidak akan bisa dilakukan tanpa pacaran, karena bagaimanapun juga kegagalan sebelum menikah akan jauh lebih ringan daripada kalau terjadi setelah nikah.

Tanggapan:
Memang, mengenal fisik dan karakter calon istri maupun suami merupakan suatu hal yang dibutuhkan orang sebelum memasuki biduk pernikahan, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari, juga tidak terkesan membeli kucing dalam karung. Namun, tujuan ini tidak bisa menghalalkan sesuatu yang haram. Ditambah lagi, bahwa orang yang sedang jatuh cinta akan berusaha menampakkan segala yang baik dengan menutupi kekurangannya di hadapan kekasihnya. Juga orang yang sedang jatuh cinta akan menjadi buta dan tuli terhadap perbuatan kekasihnya, sehingga akan melihat semua yang dilakukannya adalah kebaikan tanpa cacat. (Lihat Faidhul Qodîr oleh Imam Al-Munâwî: 3/454).


Referensi

http://pacaranislami.wordpress.com
http://www.wahdah.or.id

Senin, 22 November 2010

Pelangi di Tanah Suci




Semburat warna pelangi terlihat di perbukitan sekitar Mina, usai hujan lebat disertai petir turun di sekitar Mekkah, Arab Saudi, Kamis (18/11). Walaupun hujan lebat turun sejumlah jemaah haji tetap antusias mendatangi Jamarat untuk melontar jumroh Nafar Awal. (FOTO ANTARA/Saptono)

Dodi IR

Minggu, 21 November 2010

Kontroversi Video Lady Gaga


Los Angeles - Membicarakan Lady Gaga seperti tidak ada habisnya. Kali ini giliran video klip terbarunya berjudul 'Alejandro' menuai kontroversi keagamaan dan seks bebas.

Banyak hal yang menjadi pembicaraan dalam video klip terbaru Lady Gaga, 'Alejandro'. Seperti gaya berpakaian, koreografi sampai properti yang digunakan.

Dimulai dari gaya berpakaiannya, Lady Gaga terlihat menggunakan berbagai kostum. Mulai dari jubah biarawati warna merah hingga pakaian dalam berwarna nude. Pada video klip ini Lady Gaga juga terlihat mengenakan bra dengan moncong senjata.



Dalam video garapan fotografer lawas, Steven Klein, terlihat beberapa koreografi yang menggambarkan kegiatan pasangan yang sedang berhubungan intim dengan kasar. Sang sutradara memang terkenal suka memasukkan unsur 'fetish' ke dalam karya kreatifnya.

Tidak habis sampai di situ saja, berbagai properti yang digunakan banyak mendapat perhatian, seperti simbol-simbol agama. "Simbolisme agama tidak dimaksudkan untuk menunjukkan sesuatu yang negatif, tetapi merupakan pertempuran karakter di antara kekuatan gelap dunia dengan keselamatan rohani," ujar sang sutradara dilansir Fashionologie, Kamis (17/6/2010).

Pada akhir klip, Lady Gaga memilih menjadi biarawati dan menarik dirinya dari dunia batin yang jahat dan pergi menuju doa dan kontemplasi. Klein juga menambahkan, adegan Lady Gaga memakan kalung rosario dimaksudkan untuk mewakili keinginannya untuk menjadi kudus.

Sumber : detik.com

Sabar dalam Kekalahan

Hari-hari kekalahan terus terjadi. Belum lama, minimal ada dua orang yang sangat kecewa. Dia adalah Jusuf Kalla dan Megawati Soekarnoputri. Keduanya, baru saja mengalami kekalahan di pemilu.Dan, hati mereka mungkin sekarang bagai teriris sembilu menyaksikan SBY-Budiono dilantik menjadi presiden-wakil presiden.

Bukan hanya mereka berdua yang kecewa. Ada banyak hati yang teriris sembilu karena jago mereka kalah. Sayang, pemilihan presiden tidak memberi peluang untuk hasil seri. Hanya satu: kalah atau menang. Yang menang berbingar, yang kalah berteriak kecewa.

Sangat sulit, bagi saya, untuk bisa mengerti bagaimana mungkin JK bisa kalah telak. Bahkan, ia hanya menempati di posisi paling buncit. Ya, sudahlah, sudah kalah, mau menangis tiga jam tiga malam, tetap tidak akan mengubah keadaan.

Yang penting, meski kalah tetapi tetap bisa bersabar. Orang-orang yang berkompetisi, biasanya, semua ingin menang. Sayang, tidak semua bisa menjadi pemenang. Bahkan, jika kita jujur, dalam hidup ini justru lebih banyak yang kalah dibanding sebagai pemenang. Tidak heran, bila jumlah orang meskin di dunia jauh lebih banyak dibanding dengan orang yang berada di status kaya.

Kaya, jelas ukurannya adalah materi. Bukan yang lain. Padahal, lebih banyak orang meski yang kaya hati, dibandingkan dengan orang kaya. Orang kaya secara ekonomi, bisa juga kaya secara hati. Ini jarang.

Jika dalam hidup orang yang kalah lebih banyak, mestinya yang stress lebih banyak juga. Kenyataannya tidak. Yang banyak stress, justru orang-orang yang secara ekonomi tergolong mapan. Kaum papa, malah tidak pernah stress. Mereka tidak pernah pusing dengan semua problem yang dihadapi. Bahkan, tidak makan sehari pun, tetap santai. Setidaknya tidak ada orang yang bunuh diri karena tidak bisa mendapatkan makanan.

Saya punya kenalan yang bisa dengan tenang memaknai kekalahan. Sebut saja teman kita itu Kusnaini. Dia dulu punya kegemaran berjudi. Kusnaini ini bukan penjudi kelas teri. Jika berjudi, bukan seratus ribu yang dipertaruhkan. Tapi, minimal Rp 100 juta. Sekali kalah, mungkin bisa miliaran.

Di mana ia bisa berjudi? Kusnan berjudi bersama para gambler di tempat yang nyaman. Hotel, kapal pesiar, atau bahkan Las Vegas. Asal tahu saja, Kusnan ini memiliki members card penjudi di Genting Hightland dan Crismas Island. “Lihat saja kalang nggak percaya?” kata Kusnan membuka isi dompetnya.

Untuk menjadi anggota penjudi elit ini, dia minimal harus berkunjung ke sana minimal sekali sebulan (jika tak salah). Sekali bertaruh, paling sedikit Rp 100 juta. Ia pernah bercerita, suatu kali menang hingga membawa koin judinya pun ia tak sanggup. “Pokoknya banyak banget.”

Jika dia menang, maka garasi mobilnya akan penuh dengan mobil-mobil bermerek kelas atas. Bukan tanpa alasan ia investasi dengan mobil. “Gampang jualnya, jika saya perlu uang,” katanya.

Soal kalah? “Wah saya pernah bangkrut. Habis semuanya,” kata Kusnan yang biasa berkaca mata hitam ke manapun pergi ini. Kusnan mengaku dia biasa kok kalah. Ya namanya penjudi, tak pernah kapok. Judi telah menjadi candu.

Meski sering kalah daripada menang, Kusnan, tak jera-jera juga. Ia tidak pernah stress. “Ya seperti sampeyan main tenis Mas. Pernah kalah main tenis terus stres? nggak kan? Besoknya main lagi kan?” katanya.

Di dalam hidup, Kusnan memang mirip penjudi. Ia berulang kali mengalami pasang surut. Bangkrut, bangkit, bangkrut lagi. Apa yang membuatnya berhenti? “Saat anak saya ketahuan berjudi,” katanya.

Anak lelaki Kusnan, pernah ditangkap guru di kelas karena berjudi dengan teman-temannya. “Saya seperti ditampar. Kalau anak saya jadi penjudi, wah bisa bahaya,” katanya.

Dia berhenti. Ya berhenti. Karena berhenti berjudi, semua “kejahatan” yang biasa dia lakukan ikut pula berhenti. Misalnya, dia tidak pernah datang ke dukun lagi. Ia berhenti “jajan” seks. Ia juga berhenti minenggak minuman keras.

Semua ini bukan pekerjaan mudah. Tidak seperti menginjak pedal rem, yang membuat mobil bisa berhenti. Dia harus bertempur dengan syahwatnya. Ia bertarung dengan kata-kata menyakitkan dari teman-temannya yang masih aktif berjudi.

Ia beruntung punya istri yang bisa menempatkan diri. memberi semangat dan membimbing ke jalan yang lurus. Dan, kunci suksesnya sebenarnya adalah “hijrah.” Ia ganti nomor telepon, pindah rumah, dan berganti teman. Semua ia tinggalkan.

Dan, ia merangkak dari bawah lagi. “Gak papa, jika Alloh mengambil aku hari ini, aku sedikt lebih siap,” katanya.

Saya jadi teringat sebuah hadis di kitab Shohih Buchori, tentang kisah penjahat yang hendak bertaubat. Dia sudah membunuh 99 orang. Dia mendatangi seorang pendeta, bertanya, apakah dirinya bisa diterima taubatnya? Si pendeta menjawab, “Tidak mungkin. Dosamu terlalu banyak,” katanya.

Si Penjahat marah, dan ditebaslah leher orang itu. Maka, lengkaplah 100 orang korban kekejamannya. Dia pergi ke seorang alim. Jawaban yang diperoleh sungguh melegakan. “Bisa. Alloh maha pemaaf. Tinggalkanlah kaummu dan pergilah ke tempat lain, di sana kamu bisa bertaubat dan mengubah hidup,” kira-kira begitu nasehatnya.

Diperjalanan, dia meninggal. Beruntung jarak yang ditempuh sudah lebih dekat ke kota tujuan. Maka, meski dia belum melakukan kebaikan, ia telah diterima taubatnya.


Source : http://belajarsabar.wordpress.com/category/sabar-menjalani-hidup/

Jumat, 12 November 2010

Surga Pengen. Beramal Ogah -_-?

Dikutip dari buku SOS( save our soul) karya : O. Solihin

dan disempurnakan oleh Felda Raissa Rahma


Lucu ya, pengen masuk surga, tapi ogah beramal. Hmm.. ini sih bukan hanya lucu, tapi juga aneh bin ajaib. Emangnya surga gratis? Nggak lha yauw. Kita-kita aja masih was-was, khawatir amalan baik selama ini nggak keterima karena mungkin nggak ikhlas. Lebih sedih lagi seharusnya jika kita berharap surga, tapi NGGAK PERNAH (atau SEDIKIT) beramal baik.

Sobat muda muslim, banyak diantara kita yang kepengen masuk surga, tapi diminta untuk SHOLAT aja SUSAHNYA SETENGAH MATI. Banyak juga diantara kita yang INGIN dapetin surga-Nya, tapi diminta TAAT dan PATUH sama ajaran-Nya aja ogah. Itu sih sama artinya ngarepin dapet uang pensiun , tapi tanpa kerja selagi usia produktif. Lucu dan aneh banget kan?

Pengen masuk surga, tapi tanpa beriman dan beramal shaleh, kira-kira mungkin nggak? Mimpi kali ye!

Ini sedikit renungan aja buat kita semua. Semoga kita mulai berbenah dalam hidup ini. Mumpung masih hidup. Jangan sia-siakan waktu kita. Kita bisa berbuat lebih banyak. Karena kita nggak pernah tahu kapan kita dijemput oleh Malaikat Izrail untuk menghadap Allah SWT. dan mempertanggung-jawabkan perbuatan kita selama di dunia. Mumpung masih ada waktu,sebisa mungkin kita mengumpulkan banyak amal baik untuk bekal di akhirat kelak.

Rasulullah SAW. bersabda, "Bersegeralah menunaikan amal-amal kebajikan. Karena, saatnya nanti akan datang banyak fitnah, bagaikan penggalan malam yang gelap gulita. Betapa bakal terjadi seseorang yang di pagi hari dalam keadaan beriman, di sore harinya ia akan menjadi kafir. Dan seseorang yang di waktu sore masih beriman, keesokan harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan komoditas dunia." (HR Bukhari dan Muslim)

Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah Ta'ala untuk melakukan amalan yang baik sesuai ajaran Islam. Ditanamkan dalam hati kita untuk gampang menerima kebenaran dan mengamalkannya. Semoga.

Semangat perubahan!! YES ^^_